Cara Jepang Mengatasi Banjir

 

Siapa sangka bahwa negara adidaya di Asia pernah kewalahan mengatasi banjir ? Namun berkat cerdas dan canggihnya teknologi yang dikembangkan, akhirnya Jepang berhasil mengatasi banjir.

Dikelilingi oleh air, negara Jepang yang berupa kepualauan ini memiliki sejarah banjir yang panjang yang disebabkan area pantai dan di sepanjang sungai sangat beresiko. Sehingga untuk melindungi wilayah ini, para insinyurnya telah mengembangkan sistem kanal dan kunci pintu air yang kompleks. Hal ini berawal pada pasca bencana banjir pada 1910, Jepang mulai mencari cara untuk melindungi dataran rendah di bagian Kota Tokyo. Pintu Air Iwabuchi, atau Akasuimon (Pintu Air Merah), dirancang pada 1924 oleh Akira Aoyama, seorang arsitek Jepang. Meski gerbang Pintu Air Merah dinonaktifkan pada 1982 tapi tetap menjadi sesuatu yang menarik untuk dipandang.

Sistem drainase juga menjadi solusi Jepang atasi banjir yaitu Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC) yang merupakan sebuah sistem terowongan sepanjang 6,3 km dan ruang-ruang silindris yang menjulang tinggi yang melindungi Tokyo bagian utara dari sergapan banjir.

Saluran gorong-gorong dan katedral MAOUDC dibangun dengan biaya senilai US$2 miliar yang merupakan salah satu prestasi teknik paling mengesankan di ibu kota Jepang. Selesai pada tahun 2006 setelah 13 tahun pengerjaan, itu adalah fasilitas pengalihan banjir terbesar di dunia dari Tokyo.

Kanal akan menyedot air dari sungai kecil dan menengah di Tokyo Utara dan memindahkannya ke Sungai Edo yang lebih besar juga dapat menampung volume air besar dengan lebih mudah. Ketika salah satu sungai ini meluap, air akan jatuh ke salah satu dari lima tangki silinder setinggi 70 meter yang tersebar di sepanjang saluran. Dimana masing-masing tangki ini cukup besar bahkan dapat menampung Patung Liberty. Mereka saling terhubung melalui jaringan terowongan bawah tanah sepanjang 6,3 km. Saat air mendekati Sungai Edo, katedral akan mengurangi alirannya, sehingga pompa dapat mendorongnya ke sungai.

Merupakan sistem drainase terbesar di dunia (memiliki 78 pompa dan 59 pilar beton serta memungkinkan air untuk berpindah sebanyak 200 ton tiap detiknya), prinsip yang digunakan dari katedral ini sebenarnya sangat sederhana. Air yang ada dari seluruh sudut kota akan mengalir melalui sumur dengan ketebalan 10 meter ke dalam 5 kolam beton raksasa. Kelima kolam beton ini memiliki lebar 32 meter dan tinggi 65 m.

Meski begitu, Tokyo dinilai tidak siap untuk menghadapi hujan lebat yang bisa datang dengan pemanasan global dan dapat mengalami kerugian ekonom. Hal tersebut membuat hingga kini semua orang mengawasi Tokyo untuk mengukur dan menguji seberapa baik penanganan badai dan hujan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *