
Bicara tentang irigasi, persoalan irigasi tidak dapat lepas dari budidaya pertanian. Hal ini telah lama disadari manusia, khususnya pada petani.
Menurut cerita pada zaman dahulu, apabila lahan pertanian dekat dengan sumber air yang berlimpah seperti mata air atau sungai, maka irigasi dilakukan dengan cara mengalirkan air ke lahan pertanian. Namun dapat pula dilakukan dengan cara membawa air langsung ke lahan pertanian, yang orang banyak menyebut cara ini sebagai menyiram.
Di dunia, sistem irigasi pertama dibangun sekitar 250 M yang diberi nama Dujiangyan yang dibangun oleh Li Bing, seorang ahli hidrologi Cina, pada masa Dinasti Qing. Hebatnya, hingga kini sistem irigasi ini masih dapat dipakai. Li Bing menemukan metode untuk mengendalikan banjir Sungai Minjiang tanpa menggunakan bendungan. Berkat sistem irigasi ini, tidak hanya banjir yang dapat dikendalikan, tapi juga membuat dataran Chengdu mendapat air untuk kebutuhan irigasi. Hingga cerita ini ditulis, menurut informasi Dujiangyan mengairi lebih dari 668.700 hektar lahan pertanian dan menjadi sumber air bagi lebih dari 50 kota di provinsi Sichuan.
Sang ahli hidrologi bersama putranya, berhasil menemukan sebab terjadinya banjir di Sungai Minjiang yaitu karena meluapnya air yang mengalir cepat dari pegunungan dan mengalir lambat di bagian hilir. Kemudian dia mengalirkan sebagian air ke daratan Chengdu yang kering dengan cara membuat saluran di gunung Yulei.
Raja Zhao dari Qin mendukung sepenuhnya proyeki ini dengan dibantu puluhan ribu pekerja. Mereka membuat tanggul untuk mengalihkan aliran air yang bentuknya serupa sosis mirip keranjang bamboo yang di dalamnya diisi baru, dan dikenal sebagai Zhulong. Agar tanggul ini kokoh, dibuat pula penyangga tripod kayu yang dikenal sebagai Macha. Pembuatan tanggul ini diselesaikan dalam waktu sekitar 4 tahun.
Ada hal yang menakjubkan dari proyek ini yaitu pembuatan saluran di gunung Yulei yang memerlukan waktu hingga 8 tahun untuk membuat saluran selebar 20 meter. Hal tersebut dikarenakan pada waktu itu, bahan peledak atau mesiu belum ditemukan sehingga Li Bung harus memanaskan dan mendinginkan batu berkali-kali. Proyek Dujiangyan dijuluki sebagai ‘Harta Karun Sichuan’ dan menjadi Situs Warisan Dunia Unesco sejak 2003 ini sungguh dapat dijadikan contoh ilmuwan lain untuk mengelola air dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Leave a Reply