
Siapa mengira bahwa adanya kelaparan menjadi awal mula sebuah pembangunan di suatu wilayah ? Hal tersebut terjadi di Hindia Belanda. Pembangunan irigasi di Hindia Belanda dimulai dengan adanya kelapaan karena gagal panen tahun 1848 – 1849 , yang menyebabkan 200.000 orang meningeal dunia, sehingga pada tahun 1859 dibangun bendung pertama, yaitu bendung Glapan di Sungai Tuntang. Bendung ini mengairi 12.000 ha. Kemudian pada tahun 1885 dibentuk Departemen BOW ( Burgerlijkr Openbare Werker) yang sekarang dikenal sebagai Departemen Pekerjaan Umum dan tahun 1905 dibentuk Departement van Landbouw (sekarang Departemen Pertanian). Pada tahun 1914 juga sudah mulai terdapat sawah beririgasi yang dibangun masyarakat seluas 2/3 dari total sawah beririgasi.
Politik yang terjadi di Hindia Belanda melahirkan sebuah program untuk kesejahteraan masyarakat pribumi, yaitu : Irigasi, Edukasi, dan Transmigrasi. Menyambung dengan program pemerintah, terdapat dua pendapat tentang keberhasilan pembangunan irigasi. Pendapat pertama adalah bahwa program ini berhasil dilihat dari adanya peningkatan produkis padi/palawija, perbaikan fasilitas transportasi, air minum, air dan air untuk ternak. Namun pendapat kedua berkata sebaliknya bahwa tidak ada peningkatan hasil padi, padahal terjadi pertumbuhan penduduk yang meningkat tajam.
Kemudian untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mengadopsi dua prinsip utama dalam pengelolaan irigasi, yaitu :
- Pekalen Regeling : sistem pengelolaan yang didasarkan pada pola tanam yang ditetapkan sebelumnya. Pengelolaan air irigasi diperlukan untuk mendukung terlaksananya pola tanam yang dikehendaki, suatu prinsip klasik tentang azas Kegunaan.
- Pategoean Regeling : mengadopsi prinsip pengelolaan air pada daerah irigasi yang dibangun masyarakat sendiri yaitu alokasi air berdasarkan kesamaan kesempatan, sedangkan pola tanam diserahkan sendiri pada masyarakat.
Namun pada akhirnya, untuk kepentingan colonial dipilih prinsip pengelolaan yang pertama.

Leave a Reply